√ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya

Diposting pada

√ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya – Hallo para pencari ilmu, jumpa lagi dalam seputarilmu.com. Kali ini artikel seputarilmu.com akan membahas mengenai Kerajaan Kutai dan Sejarah serta Keruntuhan dari Kerjaan Kutai secara lengkap. Mari simak penjelasan terlekapnya mengenai Kerajaan Kutai dibawah ini suapay kamu lebih memahami sejarah kerajaan yang ada di Indonesia.

 

√ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya
√ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya

Sejarah Kerajaan kutai

Zaman sejarah di Indonesia ini dimulai dengan ditemukannya tulisan di daerah Kutai, Kalimatan Timur yang diperkirakan letaknya disekitar aliran sungai Mahakam.

Para ahli juga memperkirakan ini merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia dan menyebutnya Kerajaan Kutai sesuai dengan nama daerah penemuannya.

Melihat letaknya yang berada di jalur perdagangan India (di barat) dan Cina (di Timur), banyak sekali pengaruh dari luar yang masuk ke kerajaan Kutai.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya suatu benda-benda dari kedua wilayah tersebut. Barang-barang tersebut seperti keramik, arca dewa Trimurti, serta arca Ganesha, kemungkinan juga merupakan bagian dari perlengkapan upacara keagamaan selain untuk kehidupan sehari-hari.

Kerajaan Kutai yang diperkirakan berdiri atau dibangun pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah Yupa (prasasti berupa tiang batu) yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang berasal dari India yang sudah mengenal Hindu.

Yupa ini mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja. Dari tulisan yang tertera pada yupa tersebut nama raja Kundungga juga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia, namun penggantinya seperti Aswawarman.

Mulawarman itu menunjukan suatu nama yang diambil dari nama India dan upacara yang dilakukannya menujukan kegiatan upacara agama Hindu. Dari sanalah dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan Hindu ini telah masuk di Kerajaan Kutai.

Pendiri dari Kerjaan Kutai yaitu raja Kudungga. Raja tersebut mendapat gelar Wangsakerta yang artinya seorang pembentuk keluarga raja. Selain itu, Raja Kudungga ini juga mendapat sebutan sebagai Dewa Ansuman atau Dewa Matahari.

Pada stupa peninggalan Kerajaan Kutai ini juga disebutkan pemberian gelarnya. Namun, terdapat beberapa cerita yang menyebutkan bahwa pendiri Kerajaan Kutai adalah Asmawarman. Tidak ada informasi yang otentik untuk menyebutkan siapa yang sebenarnya pendiri kerajaan ini.

Setelah Raja Aswawarman, Kerjaan Kutai juga dipimpin oleh Raja Mulawarman. Menurut sejarah, Raja Mulawarman ini dikenal juga sebagai raja besar yang sangat mulia dan juga mempunyai budi yang baik.

 

 

Silsilah Kerajaan Kutai

Berikut ini silsilah Kerajaan Kutai yang lengkap yaitu sebagai berikut  :

 

  • Maharaja Kudungga dengan gelar anumerta Dewawarman

Kudungga, jika dilihat dari namanya merupakan sebuah nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan budaya India sekalipun. Pada awalnya, Kedudukan Raja Kudungga ialah sebagai kepala suku. Masuknya suatu pengaruh Hindu ini membuat raja Kudungga yang akhirnya mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan.

Setelah itu, mengangkat dirinya sendiri sebagai raja, yang selanjutnya pergantian sebagai raja ini dilakukan secara turun menurun.

 

  • Maharaja Asmawarman dengan gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman

Di dalam Prasasti Yupa juga menceritakan bahwa Raja Aswawarman merupakan raja yang sangat cakap dan kuat. Raja Aswawarman pada pemerintahannya, melakukan suatu perluasan wilayah Kerajaan Kutai. Hal ini dibuktikan pada masanya, dilakukannya suatu Upacara Asmawedha.

Upacara-upacara ini juga pernah dilakukan di daerah India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta. Dalam upacara tersebut, dilakukan suatu pelepasan kuda untuk menentukan batas kekuasaan Kerajaan Kutai.

 

  • Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)

Raja Mulawarman merupakan seorang anak dari Raja Mulawarman. Raja Mulawarman juga merupakan raja yang terbesar dari Kerajaan Kutai. Pada masa pemerintahannya, Raja Mulawarman ini yang membawa Kerajaan Kutai mencapai masa kejayaannya.

Pada masa ini juga, rakyatnya hidup tentram dan sejahtera hingga Raja Mulawarman mengadakan suatu upacara kurban emas yang sangat melimpah.

Berikut ini raja-raja pengganti setelah Mulawarman diantaranya :

  • Maharaja Marawijaya Warman
  • Maharaja Gajayana Warman
  • Maharaja Tungga Warman
  • Maharaja Jayanaga Warman
  • Maharaja Nalasinga Warman
  • Maharaja Nala Parana Tungga Warman
  • Maharaja Gadingga Warman Dewa
  • Maharaja Indra Warman Dewa
  • Maharaja Sangga Warman Dewa
  • Maharaja Candrawarman
  • Maharaja Sri Langka Dewa Warman
  • Maharaja Guna Parana Dewa Warman
  • Maharaja Wijaya Warman
  • Maharaja Sri Aji Dewa Warman
  • Maharaja Mulia Putera Warman
  • Maharaja Nala Pandita Warman
  • Maharaja Indra Paruta Dewa Warman
  • Maharaja Dharma Setia Warman

 

 

Sumber Sejarah Pertama yaitu Prastasi Yupa

Yupa ini merupakan sebuah tiang batu sebagai peringatan yang dibuat oleh para Brahmana untuk mengikat korban hewan atau manusia yang akan dijadikan persembahan untuk para dewa-dewa. Prasasti yupa ini merupakan sumber sejarah dari di dirikannya sebuah kerajaan di Kalimantan.

 

Isi Prasasti Yupa yaitu :

 

  • Aspek Kehidupan Politik

Salah satu Yupa yang lain juga menyebutkan tentang sebuah sejarah masa pemerintahan Aswawarman di Kerajaan Kutai.

Isi prasasti Yupa ini menyatakan bahwa Raja Kudungga yang digantikan kekuasaannya dengan putranya yaitu Raja Aswawarman, kemudian digantikan lagi dengan cucunya yaitu Raja Mulawarman yang berhasil membawa Kerajaan Kutai ke puncak kejayaan.

 

  • Aspek Kebudayaan

Yupa juga menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Aswawarman di Kerajaan Kutai pernah diadakan upacara Aswamedha, yaitu suatu upacara yang dilakukan ketika sebuah kerajaan ingin memperluas wilayahnya dengan cara melakukan ritual melepas kuda untuk mengetahui batas wilayahnya.

 

  • Aspek Kehidupan Sosial

Menurut isi prasasti Yupa selanjutnya, bahwa masyarakat Indonesia juga sudah banyak yang menerima pengaruh ajaran Hindu sejak 400 Masehi di kerajaan Kutai. Hal ini berdampak sangat positif, jadi pada saat itu kerajaan pun sudah mulai mendirikan suatu bangunan yang terstruktur seperti pemerintahan kerajaan-kerajaan di India. Karena kerajaan-kerajaan di India yang membawa suatu ajaran Hindu ke Indonesia.

 

  • Aspek Ekonomi

Mata pencarian yang utama pada zaman kerajaan Kutai adalah beternak sapi, bercocok tanam dan berdagang. Letak kerajaan Kutai ini berada di tepi sungai mahakan sangat subur untuk pertanian.

Bahkan telah diperkirakan pernah terjadi suatu hubungan dagang dari kerajaan Kutai ke beberapa wilayah yang ada di luar. Pada abad ke 4 M telah ada jalur suatu perdagangan internasional dari India (melewati selat makassar), sampai terus ke Filiphina hingga Cina.

Diduga dalam pelayaran tersebut para pedagang ini singgah di kerajaan Kutai untuk dapat melakukan jual beli barang dagangan dengan sekaligus beristirahat untuk pelayaran selanjutnya. Hal seperti inilah yang dapat menjadikan kerajaan Kutai ramai, dan rakyat hidupnya makmur.

 

 

Raja – Raja Kerajaan Kutai

Berikut di bawah ini daftar raja-raja yang pernah memimpin Kerjaan Kutai, diantaranya yaitu :

  • Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
  • Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
  • Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
  • Maharaja Marawijaya Warman
  • Maharaja Gajayana Warman
  • Maharaja Tungga Warman
  • Maharaja Jayanaga Warman
  • Maharaja Nalasinga Warman
  • Maharaja Nala Parana Tungga
  • Maharaja Gadingga Warman Dewa
  • Maharaja Indra Warman Dewa
  • Maharaja Sangga Warman Dewa
  • Maharaja Candrawarman
  • Maharaja Sri Langka Dewa
  • Maharaja Guna Parana Dewa
  • Maharaja Wijaya Warman
  • Maharaja Sri Aji Dewa
  • Maharaja Mulia Putera
  • Maharaja Nala Pandita
  • Maharaja Indra Paruta Dewa
  • Maharaja Dharma Setia

 

 

Peninggalan Sejarah Kerajaan Kutai

 

1.  Singgasana Sultan

Merupakan salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Kutai yang masih terjaga sampai saat ini. Benda ini juga diletakan di Museum Mulawarman. Pada zaman dahulu Singgasana ini juga digunakan oleh Sultan Aji Muhammad Sulaimanserta raja-raja Kutai sebelumnya.

Sultan Aji Muhhammad ini yang namanya sekarang di jadikan nama bandara internasional balikpapan sepinggan sejak tahun 2014. Singgasana Sultan ini telah dilengkapi dengan payung serta umbul-umbul serta peraduan pengantin Kutai Keraton.

 

2. Kering Bukit Kang

Merupakan salah satu keris yang digunakan oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu, permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama. Berdasarkan cerita dari para masyarakat yang menyebutkan bahwa putri ini merupakan putri yang ditemukan dalam sebuah gong yang hanyut di atas bambu.

Di dalam gong tersebut terdapat seorang bayi perempuan, telur ayam dan sebuah kering. Kering ini juga diyakini sebagai Keris Bukit Kang.

 

3.  Kura – Kura Emas

Benda yang memiliki ukuran sebesar kepalan tangan ini juga ditemukan di daerah Long Lalang, daerah yang berada di hulu Sungai Mahakam.

Dari riwayat yang diketahui benda ini juga merupakan suatu persembahan dari seorang pangeran dari Kerajaan China untuk Putri Raja Kutai, Aji Bidara Putih. Kura-kura emas ini merupakan suatu bukti dari pangeran tersebut untuk mempersunting sang putri.

 

4.  Pedang Sultan Kutai

Yang terbuat dari emat padat. Ciri khas dari pedang sultan kutai ini terdapat pada corak gagang pedang terdapat ukiran gambar seekor harimau yang siap untuk menerkam mangsanya.

Kemudian pada bagian ujung pedang ini terdapat hiasan seekor buaya. Namun anda tidak akan menemukan pedang sultan kutai ini di dalam museum Mulawarman kutai, namun tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

 

5.  Kalung Ciwa

Merupakan salah satu yang ditemukan oleh pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Kalung ini yang ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar Danau Lipan Muara Kaman pada tahun 1890. Saat ini Kalung Ciwa masih digunakan sebagai perhiasan oleh sultan dan hanya dipakai ketika ada acara atau pesta penobatan sultan baru.

 

6.  Ketopong

Adalah sebuah mahkota yang biasa dipakai oleh Sultan Kerajaan Kutai yang terbuat dari emas. Ketopong ini memiliki berat 1,98 kg dan saat ini masih tersimpan di dalam Museum Nasional Jakarta.

Benda bersejarah yang satu ini ditemukan di daerah Mura Kaman, Kutai Kartanegara pada tahun 1890. Sedangkan yang dipajang di Museum Mulawarman merupakan sebuah ketopong tiruan.

 

7.  Prasasti Yupa

Merupakan salah satu bukti dari sejarah Kerajaan Kutai yang paling tua. Dari prasasti inilah diketahui tentang adanya Kerajaan Kutai di daerah Kalimantan.

Di dalam prasasti ini juga terdapat tulisan-tulisan yang menggunakan bahasa Sansekerta dan juga aksara atau huruf Pallawa. Isi dari Prasasti Yupa ini mengungkapkan sejarah dari Kerajaan Hindu yang berada di Muara Kaman, di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

 

 

Keruntuhan Kerajaan Kutai

Setelah mengalami masa kejayaan, Kerajaan Kutai juga mengalami keruntuhan pada kepemimpinan raja Maharaja Dharma Setia yang tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13 yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

Perlu diketahui bahwa Kutai Martadipura ini berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang termasuk ibukota pertama kali di Kutai Lama.

Kutai Kartanegara inilah yang disebutkan dalam sebuah sastra Jawa dengan sebutan Negarakertagama. Selanjutnya, kutai Negara ini menjadi kerajaan Islam yang disebut dengan Kesultanan Kutai Kartanegara.

 

Demikianlah penjelasan terlengkap mengenai √ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan bisa menambah ilmu pengetahuan yang luas bagi para pembaca. Terima Kasih.

 

Baca Juga Artikel :

Baca Juga :  √ Konferensi Meja Bundar (KMB) : Sejarah, Tujuan, Isi dan Dampaknya Terlengkap

Baca Juga :  √ Terlengkap Perjanjian Roem Royen : Latar Belakang, Tujuan, Isi dan Dampaknya

Baca Juga :  √ Terlengkap Perjanjian Linggarjati : Latar Belakang, Isi Perjanjian, Tokoh, Dampak dan Hasil Perundingan

Baca Juga :  √ BPUPKI : Pengertian, Sejarah, Anggota, Tugas, Sidang, dan Tujuan Terlengkap