√ Pedosfer : Pengertian, Jenis, Faktor, Struktur dan Dampak Terlengkap

Diposting pada

√ Pedosfer : Pengertian, Jenis, Faktor, Struktur dan Dampak Terlengkap Hallo para pencari ilmu, jumpa kembali dalam artikel di seputarilmu.com. Kali ini akan membahas mengenai Pedosfer.

Ada yang sudah mengenal atau pernah mendengar mengenai istilah Pedosfer? Simak penjelasan terlengkapnnya di bawah ini.

 

√ Pedosfer : Pengertian, Jenis, Faktor, Struktur dan Dampak Terlengkap
√ Pedosfer : Pengertian, Jenis, Faktor, Struktur dan Dampak Terlengkap

 

Pengertian Pedosfer

 

Pedosfer merupakan suatu lapisan paling atas dari permukaan bumi tempat berlangsungnya proses pembentukan tanah.

Tanah (soil) adalah suatu wujud alam yang terbentuk dari campuran hasil pelapukan batuan, bahan anorganik, bahan organik, air, dan udara yang menempati bagian paling atas dari litosfer.

Ilmu yang mempelajari tanah disebut Pedologi, sedangkan ilmu yang secara khusus mempelajari mengenai proses pembentukan tanah disebut Pedogenesa.

 

 

Ciri – Ciri Pedosfer

 

1. Warna Tanah

Perbedaan warna tanah disebabkan adanya kandungan bahan organis, kandungan air, umur/tingkat perkembangan tanah, kandungan bahan tertentu. Warna tanah yang gelap menunjukkan tanah tersebut banyak mengandung sebuah bahan organis.

Lapisan tanah atas, umumnya banyak mengandung bahan organis, sedangkan pada lapisan tanah bawah umumnya bahan organisnya rendah, dan warna tanah banyak ditentukan unsur Fe.

Tanah merah di Indonesia mempunyai kandungan bahan organis lebih dari 1%, sama dengan kandungan bahan organis tanah di daerah yang beriklim sedang.

 

2. Tekstur Tanah

Tekstur tanah bervariasi dari kasar sampai halus. Ukuran tekstur tanah yang berukuran 2 mm =< 0.002 mm bisa dianggap sebagai tekstur kasar, contohnya yaitu kerikil sampai batu.

Tekstur tanah yang lebih halus terdiri atas pasir 2 mm 50 ,u,, debu 50 p, 2 ,u,, dan liat < 2 ,u,. Tekstur tanah bisa diketahui dengan memijit tanah basah melalui jari-jari tangan.

Contoh :

  • Pasir : terasa di tangan kasar, sedikit melekat, dan tidak dapat digulung dan juga
  • Lempung : terasa di tangan tidak kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat digulung atau dibentuk bola.
  • Debu : terasa di tangan licin selcali, agak melekat, dan dapat digulung atau dibentuk bola.

 

3. Struktur Tanah

Struktur tanah ialah gumpalan kecil dari butir-butir tanah yang terjadi karena adanya bahan-bahan organis, oksida-oksida besi, dan sebagainya yang mengikat butir-butir pasir, debu, dan tanah liat. Gumpalan-gumpalan kecil memiliki bentuk, ukuran, dan ketahanan yang berbeda-beda.

Ukuran struktur tanah Ukuran stuktur tanah berbeda-beda. Bentuk struktur lempeng memiliki ketebalan kurang dari 1 mm – 10 mm, struktur prisma dan tiang kurang dari 10 mm – lebih dari 100 mm, granuler kurang dari 1 mm – lebih dari 10 mm, remah kurang dari 1 mm lebih dari 5 mm dan gumpal kurang dari 5 mm – lebih dari 50 mm.

Ketahanan (kemantapan) Ketahanan struktur tanah dibedakan ialah sebagai berikut :

  • Tingkat ketahanan lemah (butir-butir struktur tanah mudah hancur).
  • Tingkat ketahanan sedang (butir-butir struktur tanah agak sukar hancur).
  • Tingkat ketahanan kuat (butir-butir struktur tanah sukar hancur).

Konsistensi Menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda-benda lain.

Tanah yang punya konsistensi baik akan mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah (cangkul, bajak, dan sebagainya).

 

4. Temperatur Tanah

Temperatur tanah sangat tergantung pada input panas, panas spesifik tanah, dan output panas. Input panas berasal dari sinar matahari dan panas bumi.

Temperatur tanah sangat memengaruhi aktivitas mikroba tanah. Aktivitas biota tanah sangat baik pada temperatur antara 18 30°C.

 

5. Berat Jenis Tanah

Berat jenis tanah ialah kerapatan tanah per satuan volume yang dinyatakan dalam dua batasan, yaitu sebagai berikut: Kerapatan partikel (bobot partikel) adalah bobot massa partikel padat per satuan volume tanah.

Biasanya tanah mempunyai kerapatan partikel 2,6 gram/cm3, yang artinya setiap 1 cm3 volume tanah memiliki kerapatan partikel 2,6 gram. Sedangkan Kerapatan massa (bobot isi) adalah bobot massa tanah kondisi lapangan yang dikering-ovenkan per satuan volume.

 

6. Porositas Tanah

Porositas yaitu sebuah perbandingan antara pori-pori udara dalam tanah dengan volume tanah secara keseluruhan. Tanah yang poreus mempunyai ruang pori yang cukup untuk pergerakan air dan udara, sebaliknya tanah yang tidak poreus sulit dilewati air dan udara.

 

7. Aerasi Tanah

Aerasi tanah ialah suatu kondisi keluar masuknya udara dalam tanah. Aerasi baik jika keluar masuknya udara dalam tanah tidak mengalami hambatan.

 

 

Faktor – Faktor Pembentukan Tanah

 

  • Iklim dan faktor iklim yang diantaranya adalah cuaca dan curah hujan.
  • Organisme (Vegetasi, jasad Renik) yakni organisme sangat berpengaru terhadap proses pembentukan tanah seperti :
  1. Membuat proses pelapukan
  2. Membantu proses pembentukan humus
  3. Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah, hal ini terlihat pada daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika
  4. Memiliki kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman yang berpengaruh pada sifat-sifat tanah.
  • Batuan vulkanik, Batuan Beku, Batuan Sedimen, dan juga Batuan Metamorf. Semua batuan tersebut bisa disebut dengan bahan induk.
  • Relief Keadaan (Topografi), Keadaan Relief suatu daerah akan mempengaruhi tebal atau tipisnya lapisan tanah.
  • Waktu, tanah merupakan benda alan yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus.

 

 

Dampak dan Kerusakan Tanah Bagi Kehidupan

 

Kerusakan tanah yang terjadi saat ini merupakan dampak pemanfaatan lingkungan yang tidak terkontrol sehingga mengakibatkan terjadinya krisis lingkungan.

Dampak yang sangat terasa dalam kehidupan manusia yaitu berkurangnya lahan subur yang menjadikan semakin menipisnya lahan yang bisa dijadikan lokasi produksi kebutuhan agraris(hal yang menyangkut dengan pertanian) manusia.

 

 

Struktur Tanah

 

  • Lempeng (Platy), ditemukan di horizon A.
  • Prisma (Prosmatic), ditemukan di Horizon B pada daerah iklim kering.
  • Tiang (Columnar) ditemukan di horizon B pada daerah iklim kering.
  • Gumpal Bersudut (Angular Blocky) ditemukan pada horizon B di daerah iklim basah.
  • Gumpal Membulat (Sub Angular Blocky) ditemukan pada horizon B pada daerah iklim basah.
  • Granuler (Granular) ditemukan pada horizon A.
  • Remah (Crumb), ditemukan pada horizon A.

 

 

Jenis – Jenis Tanah

 

1. Tanah Gambut atau Tanah Organosol

Tanah Organosol yaitu jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam, tanah ini merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa.

 

2. Tanah Endapan atau Tanah Alluvial

Tanah Alluvial ialah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

 

3. Tanah Laterit

Tanah Laterit yakni tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi.

 

4. Litosol

Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.

 

5. Regosol

Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

 

6. Latosol

Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.

 

7. Grumosol

Tanah ini merupakan tanah mineral yang memiliki perkembangan profil, agak tebal, tekstur lempung berat, struktur granular di lapisan atas dan gumpal sampai pejal di lapisan bawah, konsistensi jika basah sangat lekat dan plastis.

Namun, jika kering sangat keras dan tanah retak-retak, kejenuhan basa, permeabilitas lambat, dan peka erosi. Penyebarannya di daerah iklim subhumid, dengan curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun.

 

8. Podsol

Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah.

 

9. Andosol

Jenis tanah ini merupakan jenis tanah dengan kandungan mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal, warna agak cokelat kekelabuan sampai hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembapan tinggi, permeabilitas sedang, serta peka terhadap erosi.

 

Demikianlah penjelasan terlengkap mengenai √ Pedosfer : Pengertian, Jenis, Faktor, Struktur dan Dampak Terlengkap. Semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi para pencari ilmu. Terima Kasih.

 

Baca Juga Artikel :

Baca Juga :  √ Asam Basa dan Garam : Pengertian, Ciri - Ciri, Contoh dan Sifat Terlengkap

Baca Juga :  √ Wawancara : Pengertian, Metode, Ciri, Tujuan, Fungsi, Jenis & Contohnya Lengkap

Baca Juga :  √ Tulang Baji : Pengertian, Fungsi, Ciri dan Letak Terlengkap

Baca Juga :  √ Hukum Pascal : Pengertian, Manfaat, Penerapan, Bunyi, Rumus & Contoh Soalnya Lengkap