√ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap

Diposting pada
√ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap
5 (100%) 11 votes

√ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap Hallo para pencari ilmu,jumpa kembali dalam artikel di seputarilmu.com. Kali ini akan membahas mengenai Kerajaan Kediri. Ada yang sudah mengenal atau pernah mendengar mengenai Kerajaan Kediri? Oke, mari simak penjelasan secara lengkapnya dibawah ini ya.

 

√ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap
√ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap

 

Kerajaan Kediri

 

Kerajaan Kediri merupakan salah satu dari beberapa kerajaan yang besar dan yang berpengaruh di nusantara ini. Kerajaan Kediri atau juga sering disebut sebagai Kerajaan Kadiri hadir di nusantara pada tahun 1045 M sampai tahun 1222 M.

Selama 177 tahun kekuasaannya, Kerajaan Kediri ini banyak memberikan warna peradaban di nusantara yang kemudian bernama Indonesia ini. Pada masa keemasannya, Kerajaan Kediri juga memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan ini juga meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan suatu pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Hal ini juga diperkuat dari sebuah kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri yang paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatera. Saat itu yang berkuasa di negeri Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Kediri, sedangkan Sumatera dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya.

 

 

Sejarah Awal Mula Kerajaan Kediri

 

Awal-awal masa Kerajaan Panjalu atau yang disebut dengan Kadiri tidak banyak diketahui. Tidak banyak cerita yang tersurat pada masa itu, hanya dari Prasasti Turun Hyang II (1044 M) saja yang diterbitkan kerajaan Janggala hanya menyebutkan adanya sebuah perang saudara antara dua kerajaan sepeninggal raja Airlangga.

Airlangga merupakan seorang raja Medang Kamulan yang memindahkan pusat pemerintahannya ke Kahuripan. Pada tahun 1041, Airlangga juga membagi kerajaannya menjadi dua kerajaan, yakni kerajaan Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri). Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh Gunung Kawi dan sungai Brantas.

Kadiri atau juga dikenal dengan nama Panjalu merupakan sebuah kerajaan Jawa Timur di tahun 1042 sampai 1222 yang berpusat di Kota Daha yang sekarang merupakan Kota Kediri.

Kota Daha sendiri sudah ada sebelum Kerajaan Kediri ini didirikan dan Daha merupakan singkatan dari Dahanapura yang memiliki arti kora api. Ini juga bisa dilihat dari sebuah prasasti Pamwatan dari Airlangga pada tahun 1042.

Pada akhir tahun 1042, Airlangga secara terpaksa harus membagi wilayah kerajaan tersebut sebab perebutan tahta dari dua orang putranya yakni Sri Samarawijaya yang mendapat Kerajaan Barat Panjalu di Kota Baru Daha dan Mapanji Garasakan yang mendapat Kerajaan Timur yakni Janggala di Kota Lama, Kahuripan.

Sebelum kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga ini pecah menjadi dua bagian, kerajjaan ini sudah memiliki nama Panjalu yang terletak di wilayah Daha. Kerajaan Janggala ini terlahir dari pecahan Kerajaan Panjalu sedangkan Kahuripan adalah kota lama yang ditinggalkan oleh Airlangga yang kemudian menjadi ibukota Janggala.

Wilayah Kerajaan Janggala ini meliputi Malang, Pasuruan, Surabaya dan sungai Brantas (pelabuhan kota Rembang). Sedangkan untuk kerajaan Panjalu dengan ibukota Daha wilayahnya juga meliputi Madiun dan Kediri.

Batas antara wilayah Panjalu dan Janggala ini dapat diceritakan dalam prasasti Mahaksubya (1289) yang tertulis dalam kitab Negarakertagama (1365 M), Calon Arang 1540 M.

Bahwa batas wilayah antara kedua kerajaan tersebut adalah sebuah sungai Brantas dan gunung Kawi. Kerajaan Kediri sendiri mengalami sebuah kehancuran pada masa pemerintahan raja Kertajaya atas sikapnya yang bertentangan sekali dengan kaum Brahmana.

Raja kertajaya ini menyuruh para kaum Brahmana untuk dapat menyembah dirinya laksana dewa. Aturan raja Kertajaya ini tentu saja ditolak oleh para kaum Brahmana karena melanggar agama.

Kaum Brahmana kemudian meminta bantuan Ken Arok yaitu pimpinan dari Kadipaten Tumapel guna menyerang raja Kertajaya. Dari peperangan tersebut dimenangkan oleh Ken Arok sehingga Kerajaan Kediri menjadi bawahan wilayah Tumapel lalu berganti nama Kerajaan Singasari.

 

 

Raja Yang Memimpin di Kerajaan Kediri

 

Pada saat Daha menjadi sebuah ibukota kerajaan yang masih utuh Airlangga, merupakan pendiri kota Daha sebagai pindahan kota Kahuripan.

Ketika ia turun takhta pada tahun 1042, wilayah kerajaan dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi sebuah ibukota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu. Menurut Nagarakretagama, kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga tersebut sebelum dibelah sudah bernama Panjalu.

 

Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu

  1. Sri Samarawijaya merupakan seorang putra Airlangga yang namanya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042).
  2. Sri Jayawarsa yang berdasarkan prasasti Sirah Keting (1104). Tidak diketahui dengan pasti apakah ia adalah seorang pengganti langsung Sri Samarawijaya atau bukan.
  3. Sri Bameswara yang berdasarkan prasasti Padelegan I (1117), prasasti Panumbangan (1120), dan prasasti Tangkilan (1130).
  4. Sri Jayabhaya merupakan seorang raja terbesar Panjalu, berdasarkan prasasti Ngantang (1135), prasasti Talan (1136), dan Kakawin Bharatayuddha (1157).
  5. Sri Sarweswara yang berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161).
  6. Sri Aryeswara yang berdasarkan prasasti Angin (1171).
  7. Sri Gandra yang berdasarkan prasasti Jaring (1181).
  8. Sri Kameswara yang berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradahana.
  9. Sri Kertajaya yang berdasarkan prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama, dan Pararaton.

 

Pada saat Daha menjadi bawahan Singhasari

Kerajaan Panjalu runtuh pada tahun 1222 dan menjadi bawahan Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Singhasari, yaitu sebagai berikut :

  1. Mahisa Wunga Teleng seorang putra Ken Arok.
  2. Guningbhaya adik dari Mahisa Wunga Teleng.
  3. Tohjaya kakak dari Guningbhaya.
  4. Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi seorang raja Singhasari.

 

Pada saat Daha menjadi ibu kota Kadiri

Jayakatwang adalah seorang keturunan Kertajaya yang menjadi seorang bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292 ia juga memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Jayakatwang ini kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tapi pada tahun 1293 ia dikalahkan oleh Raden Wijaya pendiri Majapahit.

 

Pada saat Daha menjadi bawahan Majapahit

Sejak tahun 1293 Daha menjadi suatu negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin ini bergelar Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian ini dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah sebagai berikut :

  1. Jayanagara 1295-1309 Nagarakretagama.47:2; Prasasti Sukamerta – yang didampingi oleh Patih Lembu Sora.
  2. Rajadewi 1309-1375 Pararaton.27:15; 29:31; Nag.4:1 – yang didampingi oleh Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
  3. Indudewi 1375-1415 Pararaton.29:19; 31:10,21
  4. Suhita 1415-1429
  5. Jayeswari 1429-1464 Pararaton.30:8; 31:34; 32:18; Waringin Pitu
  6. Manggalawardhani 1464-1474 Prasasti Trailokyapuri

 

Pada saat Daha menjadi ibu kota Majapahit

Menurut Suma Oriental dalam sebuah tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Daha menjadi ibukota Majapahit yang dipimpin juga oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak pada tahun 1527.

Sejak saat itu nama Kediri jauh lebih terkenal daripada Daha. Dan pada saat ini berdasarkan sebuah peta daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur maka dapat dilihat bahwa Kota Daha yang pada saat ini berada di daerah sekitar Pare-Kandangan, Kabupaten Kediri dan Jawa Timur yang memiliki banyak peninggalan arkeologis sampai sekarang.

 

 

Kejayaan Kerajaan Kediri

 

Kerajaan Kediri yang mencapai puncak kejayaan dan keemasan ketika kerajaan ini dibawah pimpinan Prabu Jayabaya. Sedangkan kesuksesan kerajaan juga dapat didukung oleh berbagai cenderkiawan di dalamnya seperti Empu Sedah, Empuh Panuluh, Empu Darmaja, Empu Triguna dan juga Empu Manoguna.

Mereka merupakan Jalma Sulaksana yang sudah dianggap sebagai manusia paripurna dengan derajat oboring jagad raya. Kejayaan peradaban yang diraih pada masa kepemimpinan Prabu Jayabaya sendiri dibuktikan dengan munculnya kitab-kitab hukum dan juga kenegaraan seperti yang sudah dihimpun dalam sebuah kitab Kakawin Bharatayuda oleh empu Sedah dan Empu Panuluh.

Gathotkacasraya dan juga Hariwangsa yang oleh Empu Panuluh yang sampai saat ini dijadikan sebagai warisan ruhani yang mutunya sangat tinggi. Ketika kerajaan Kediri ini mengalami puncak kejayaan di masa Prabu Jayabaya, daerah kekuasaan yang dimiliki saat itu semakin luas dari kawasan Jawa Tengah sampai pada hampir seluruh pulau Jawa.

Di samping itu pula, pengaruh dari kerajaan Kediri juga sampai kepada wilayah Pulau Sumatera yang kata itu dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Kejayaan di masa tersebut akan semakin meningkat kuat dengan adanya catatan dan juga kronik Cina pada tahun 1178 M yang isinya adalah negeri paling kaya di era kejayaan kerajaan Kediri adalah Raja Sri Jayabaya.

Tidak sebatas daerah kekuasaannya saja yang meluas dan besar, namun juga seni sastra di Kediri yang memperoleh banyak sekali perhatian. Dengan begitu, kerajaan Kediri pada era tersebut semakin disegani.

 

 

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kediri

 

Kehidupan ekonomi kerajaan kediri akan semakin berkembang di antaranya yakni sebagai berikut :

  • Pertanian
  • Perdagangan
  • Pertenakan

 

 

Kehidupan Sosial Kerajaan Kediri

 

Kehidupan sosial kerajaan kediri yaitu sebagai berikut ini :

  • Rakyat Kediri pada umumnya juga mempunyai tempat tinggal yang baik, bersih, dan rapi.
  • Hukuman yang dilaksanakan juga ada dua macam, yaitu hukuman denda (berupa emas) dan hukuman mati (khususnya bagi pencuri dan perampok).

 

 

Kehidupan Budaya Kerajaan Kediri

 

Kehidupan budaya kerajaan Kediri ialah sebagai berikut ini :

  • Pada masa Dharmawangsa berhasil disadur sebuah kitab Mahabarata ke dalam bahasa Jawa Kuno yang disebut kitab Wirataparwa, dan memiliki kitab hukum yang bernama Siwasasana.
  • Di zaman Airlangga disusun sebuah kitab Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa.
  • Masa Jayabaya berhasil digubah sebuah kitab Bharatayudha oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh, di samping itu pula, Empu Panuluh juga menulis kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
  • Masa Kameswara berhasil ditulis sebuah kitab Smaradhahana oleh Empu Dharmaja, kitab Lubdaka dan Wertasancaya oleh Empu Tan Akung.

 

 

Keruntuhan Kerajaan Kediri

 

Kerajaan Panjalu-Kadiri akhirnya runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama.

Pada tahun 1222 Kertajaya yang sedang berselisih untuk melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita ingin memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.

Perang antara Kadiri dan Tumapel ini terjadi di dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok ini berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian pula, berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Kadiri pun menjadi suatu wilayah di bawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok juga mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri.

Pada tahun 1258 Jayasabha digantikan oleh putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya juga digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Jayakatwang juga memberontak terhadap kerajaan Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya yang dikalahkan oleh Ken Arok.

Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang juga berhasil membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh para pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.

 

 

Peninggalan Kerajaan Kediri

 

  • Prasasti Banjaran berangka tahun 1052 M yang menjelaskan kemenangan Panjalu atas Jenggala.
  • Prasasti Hantang berangka tahun 1052 M yang menjelaskan Panjalu pada masa Jayabaya.
  • Prasasti Sirah Keting (1104 M) yang memuat pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Jayawarsa.
  • Prasasti yang ditemukan di daerah Tulungagung dan Kertosono berisi masalah keagamaan , berasal dari raja Bameswara.
  • Prasasti Ngantang (1135M) yang menyebutkan raja Jayabaya telah memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang sebidang tanah yang bebas dari pajak.
  • Prasasti Jaring (1181M) dari seorang raja Gandra yang memuat sejumlah nama pejabat dengan menggunakan nama hewan seperi Kebo Waruga dan Tikus Jinada.
  • Prasasti Kamulan (1194M) yang memuat masa pemerintahan Kertajaya , dimana Kediri berhasil mengalahkan musuh yang telah memusuhi istana Katang-Katang.

 

  • Candi Penataran

Candi yang termegah dan terluas di Jawa Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, pada ketinggian 450 meter dpl.

Dari prasasti yang tersimpan pada bagian candi ini juga diperkirakan candi yang dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri sekitar tahun 1200 Masehi dan juga berlanjut digunakan sampai masa pemerintahan Wikramawardhana, Raja Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.

 

  • Candi Gurah

Candi Gurah ini terletak di kecamatan di Kediri, Jawa Timur. Pada tahun 1957 pernah ditemukan sebuah candi yang jaraknya kurang lebih 2 km dari Situs Tondowongso yang dinamakan sebagai Candi Gurah namun karena kurangnya dana kemudian candi tersebut dikubur kembali.

 

  • Candi Tondowongso

Situs Tondowongso merupakan salah satu situs temuan purbakala yang ditemukan pada awal tahun 2007 di Dusun Tondowongso, Kediri, Jawa Timur.

Situs yang seluas lebih dari satu hektare ini juga dianggap sebagai penemuan terbesar untuk periode klasik sejarah Indonesia dalam 30 tahun terakhir (semenjak penemuan Kompleks Percandian Batujaya), meskipun Prof. Soekmono juga pernah menemukan satu arca dari lokasi yang sama pada tahun 1957.

Penemuan situs ini juga diawali dari ditemukannya sejumlah arca oleh sejumlah perajin batu bata setempat. Berdasarkan bentuk dan gaya tatahan pada arca yang ditemukan, situs ini diyakini sebagai peninggalan masa Kerajaan Kediri awal (abad XI), masa-masa awal perpindahan pusat politik dari kawasan Jawa Tengah ke daerah Jawa Timur.

Selama ini pula Kerajaan Kediri ini dikenal dari sejumlah karya sastra namun tidak banyak diketahui peninggalannya dalam bentuk bangunan atau hasil pahatan.

 

  • Arca Buddha Vajrasattva

Arca Buddha Vajrasattva ini juga berasal dari zaman Kerajaan Kediri (abad X/XI). Dan sekarang merupakan suatu Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

 

  • Prasasti Galunggung

Prasasti Galunggung ini memiliki tinggi sekitar 160 cm, lebar atas 80 cm, lebar bawah 75 cm. Prasasti ini terletak di daerah Rejotangan, Tulungagung.

Di sekeliling prasasti Galunggung yang banyak terdapat tulisan memakai huruf Jawa kuno. Tulisan itu berjajar dengan rapih. Total ada 20 baris yang masih bisa dilihat oleh mata. Sedangkan di sisi lain beberapa huruf dari prasasti ini sudah hilang lantaran rusak dimakan usia.

Di bagian depan, ada sebuah lambang yang berbentuk lingkaran. Di tengah lingkaran tersebut ada juga sebuah gambar persegi panjang dengan beberapa logo. Tertulis pula angka 1123 C pada salah satu sisi prasasti.

 

  • Candi Tuban

Pada tahun 1967, ketika gelombang tragedi pada tahun 1965 melanda Tulungagung. Aksi Ikonoklastik, yaitu suatu aksi menghancurkan ikon – ikon kebudayaan dan benda yang dianggap berhala terjadi.

Candi Mirigambar luput dari pengrusakan karena adanya seorang petinggi desa yang melarang merusak candi ini dan kawasan candi yang dianggap angker. Massa pun telah beralih lagi ke Candi Tuban, dinamakan demikian karena candi ini terletak di daerah Dukuh Tuban, Desa Domasan, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.

Candi ini juga terletak sekitar 500 meter dari Candi Mirigambar. Candi Tuban sendiri hanya tersisa kaki candinya saja. Setelah dirusak, candi ini dipendam dan kini diatas candi telah berdiri sebuah kandang kambing, ayam dan bebek.

Pengrusakan atas Candi Tuban ini juga didasari dari legenda bahwa Candi Tuban yang  menggambarkan tokoh laki – laki Aryo Damar, dalam legenda Angling Dharma dan jika sang laki – laki yang dihancurkan, maka dapat dianggap sebagai kemenangan.

 

  • Prasasti Panumbangan

Pada tanggal 2 Agustus 1120 Maharaja Bameswara mengeluarkan sebuah prasasti Panumbangan tentang permohonan penduduk desa Panumbangan supaya piagam mereka yang tertulis di atas daun lontar dapat ditulis ulang di atas batu.

Prasasti tersebut berisi sebuah penetapan desa Panumbangan sebagai sima swatantra oleh raja sebelumnya yang dimakamkan di Gajapada. Raja sebelumnya yang dimaksud dalam suatu prasasti ini diperkirakan adalah Sri Jayawarsa.

 

  • Prasasti Talan

Prasasti Talan atau Munggut terletak di daerah Dusun Gurit, Kabupaten Blitar. Prasasti ini juga berangka tahun 1058 Saka (1136 Masehi). Cap prasasti ini berbentuk Garudhamukalancana pada bagian atas prasasti ini dalam bentuk badan manusia dengan kepala burung garuda serta bersayap.

Isi prasasti ini juga berkenaan dengan anugerah sima kepada Desa Talan yang masuk wilayah Panumbangan memperlihatkan sebuah prasasti diatas daun lontar dengan cap kerajaan Garudamukha yang telah mereka terima dari Bhatara Guru pada tahun 961 Saka (27 Januari 1040 Masehi).

Dan menetapkan Desa Talan sewilayahnya sebagai sima yang telah bebas dari kewajiban iuran pajak sehingga mereka memohon agar prasasti tersebut dapat dipindahkan diatas batu dengan cap kerajaan Narasingha.

Raja Jayabhaya mengabulkan sebuah permintaan warga Talan karena kesetiaan yang amat sangat terhadap raja dan menambah anugerah berupa berbagai macam hak istimewa.

 

  • Kitab kakawin Bharatayudha

Dibuat oleh Mpu Seddah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh juga yang bercerita tentang raja Jayabaya yang berhasil menaklukkan kerajaan Panjalu.

 

  • Kitab Kresnayan

Dibuat oleh Mpu Triguna , yang bercerita tentang seorang anak yang mempunyai sebuah kekuatan yang sangat luar biasa yang dikenal sebagai Kresna.

 

  • Kitab Sumarasantaka

Dibuat oleh Mpu Monaguna, yang menceritakan tentang kutukan terhadap seorang bididari yang telah berbuat kesalahan di khayangan.

 

  • Kitab Gatotkacasraya

Dibuat oleh Mpu Panuluh, yang bercerita tentang seorang pahlawan Gatotkaca yang memberikan bantuan kepada Abimayu, Putra Arjuna dengan Siti Sundhari ke pernikahan.

 

  • Kitab Smaradhana

Dibuat oleh Mpu Dharmaja, yang mengisahkan sepasang pasangan yang hilang karena terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa. Dewa Kama dan Dewi Ratih.

 

Demikianlah penjelasan mengenai √ Kerajaan Kediri : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap. Semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi para pencari ilmu. Terima Kasih.

 

Baca Juga Artikel :

Baca Juga :  √ Kerajaan Demak : Sejarah, Kehidupan, Raja dan Peninggalannya Terlengkap

Baca Juga :  √ Kerajaan Tarumanegara : Sejarah, Peninggalan, Silsilah, dan Keruntuhannya Terlengkap

Baca Juga :  √ Kerajaan Majapahit dan Sejarah Terlengkap

Baca Juga :  √ [ TERLENGKAP ] Sejarah Kerajaan Kutai Hingga Keruntuhannya